District Team Problem Solving

Tugas-Tugas Workshop DTPS PJJ Uncen-Unand di Kaliurang Februari 2007
Kelompok Gizi

1. Deskripsi Masalah Gizi Buruk

Penderita gizi buruk tidak tertangani dengan baik karena tidak ada SOP gizi buruk bagi para petugas kesehatan. Akibatnya, banyak kasus gizi buruk yang tidak tertangani dengan baik. Sehingga, penyakit penyerta seperti diare, bronchitis, TB Paru juga tidak terdeteksi. Akibat tida terdeteksi menyebabkan kematian.
Melkior Tapy

Dana Kurang.
Yang bertanggung jawab penuh pada penganggaran adalah pemerintah daerah dimana perencanaan penganggaran ini dimulai dari bawah ke atas atau bottom up, yang tidak direncanakan secara baik sehingga pada saat pelaksanaan kegiatan antara lain program penyuluhan gizi dananya kurang. Tetapi ada juga masalah yang terjadi pada penganggaran di pemerintah daerah, ada badan eksekutif dan legislatif memiliki perbedaan pendapat tentang masalah-masalah kesehatan dalam program perencanaan penganggaran yang tidak dipahami secara baik, mana masalah yang lebih urgent untuk mendukung sistem pembangunan kesehatan juga para stakeholder pemberi pelayanan dengan advokasi dan negosiasi yang tidak terlalu mendukung, disitulah terjadi masalah.

Dengan adanya masalah dimana dana kurang, kegiatan dilakukan tidak maksimal, terjadi masalah baru yang lebih hebat lagi dapat menimbulkan korban dalam jumlah besar, fatal, antara lain korban akibat gizi buruk.
Judith. M. J. Rumkorem

Monitoring dan Evaluasi Kurang (MONEV)
1. Petugas kurang pengetahuan
2. Tidak ada catatan pelayanan kegiatan yang baik
3. Kurang volume kunjungan petugas puskesmas/pustu
4. Follow up/feedback laporan tidak dilakukan
5. Perhatian pejabat kurang
Musa Taudufel

Posyandu Kurang Aktif
Posyandu merupakan keikutsertaan masyarakat dalam menunjang kesehatan pribadi, keluarga dan masyarakat. Posyandu juga merupakan peran serta masyarakat setempat untuk dapat membangun derajat kesehatan masyarakat setempat agar dapat mengukur tingkat kesehatan masyarakat tersebut dengan melibatkan diri dalam posyandu sebagai kader posyandu.
Berdiri dan berkembangnya posyandu didukung oleh laparat desa atau kampung dengan adanya kerjasama puskesmas. Posyandu di desa A sudah terbentuk dengan adanya kerjasama dengan adanya kerjasama dengan aparat desa A, masyarakat dan puskesmas setempat. Posyandu sudah terbentuk dan pemilihan kader posyandu sudah dipilih. Namun, para kader posyandu tersebut tidak diberikan pelatihan dalam pelaksanaan program posyandu. Dengan berpengatahuan rendah dan tingkat pendidikan yang rendah, para kader posyandu tersebut tidak mampu memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya datang ke posyandu untuk dilayani, serta bagaimana informasi lainnya kepada masyarakat agar dapat hidup bersih dan sehat.
Posyandu tidak aktif juga disebabkan karena tidak adanya tempat yang khusus untuk posyandu, tanggal dan jadwal pelaksanaan tidak ada. Kader yang dipilih juga tidak melaksanakan tugasnya saat melakukan posyandu, namun mereka melakukan pekerjaan lain dan mengabaikan tugasnya sebagai kader. Posyandu kurang aktif juga disebabkan oleh kurang adanya dukungan dari puskesmas, dalam hal bimbingan, serta dukungan dana penunjang.
Ismael Mebri

2. Diagram Masalah Gizi Buruk





Kelompok HIV-AIDS

Diagram Masalah HIV-AIDS




Kelompok Kematian Ibu

1. Deskripsi Masalah Kematian Ibu

Masalah : Jam Buka Puskesmas Hanya Sampai Jam 11 Siang

Pada daerah yang terletak jauh dari puskesmas sebagai pelayanan kesehatan terdepan, jam buka puskesmas yang hanya sampai jam 11 siang sangat bermasalah.

Seorang ibu hamil in partu yang tinggal di daerah terpencil dengan transportasi yang sulit, untuk persalinan ke puskesmas akan terjadi permasalahan-permasalahan misalnya

1. Sejak pagi sudah harus berjalan lb krg 18 km ke puskesmas.
2. Sampai di puskesmas ternyata puskesmas sudah tutup.
3. Petugas puskesmas, dokter, semua sudah tidak berada di tempat. di informasikan lewat pengumuman di dinding depan puskesmas bahwa semua pergi ke lapangan.
4. Tidak ada bidan atau petugas lainnya yang piket di puskesmas.

Ibu hamil dalam kondisi inpartu tersebut, sudah sangat lelah sekali, dan dirasakannya rasa sakit di perutnya bertambah sering. sudah mengalir darah dan ibu tersebut merasakan bahwa dia sudah waktunya melahirkan.

Untuk pergi ke rs sangat jauh sekali. sempat terfikir seandainya saja ibu dukun yang biasa menolong persalinannya masih hidup. Pada akhirnya ibu terbut berjalan kembali dengan rasa sakit dan bingung. di tengah perjalanan perdarahannya semakin banyak dan akhirnya ibu tersebut tidak sadarkan diri dan akhirnya karena tidak ada pertolongan sama sekali ibu tersebut meninggal. padahal ibu tersebut memiliki anak yang banyak dan masih kecil-kecil.

Pada kenyataannya kasus tersebut banyak sekali terjadi di indonesia ini. apa yang harus kita lakukan untuk memberikan jalan keluar terhadap masalah ini ?

Masalah: Dokter Obgin Praktek Di Banyak Tempat , Sehingga Tidak Tidak Ada Ketika Dibutuhkan

Seorang ibu dengan kasus perdarahan pasca persalinan dirujuk dari bidan/ puskesmas . ketika tiba di rs diharapkan dapat segera ditangani , namun ternyata dokter obgin tidak berada di tempat kerena sedang praktek di tempat lain.

Ketika dihubungi hp dijawab oleh veronika/tidak aktif. akibatnya ibu tidak terlong dan ahirnya meninggal kerena dokter terlambat/ tidak datang.

Masalah: Transportasi Yang Digunakan Tidak Dilengkapi Dengan Peralatan Pertolongan Emergensi”

Seorang ibu pasca persalinan kasus perdarahan yang sangat hebat , hendak dirujuk kerumah sakit rujukan setempat, ambulance/alat transfortasi sudah tersedia akan tetapi tidak dilengkapi dengan alat-alat emergensi, selama dalam perjalanan petugas pendamping (nakes) tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan alat. sehingga pasien tersebut dalam perjalanan tidak bisa tertolong lagi atau meninggal

Masalah: Unit Transfusi Darah Belum Tersedia Di RS

Ibu hamil yang menderita anemi menjadi salah satu penyebab perdarahan pasca persalinan. kasus ibu anemi tidak tertangani oleh karena tidak tersedianya unit transfusi darah di RS.Sebagian besar RS belum menganggap pentingnya disediakan unit transfusi darah di rs,karena sudah terbiasa tergantung pada pmi yang nota bene sering kekosongan stok darah karena kurangnya kampanye donor

Masalah: Infeksi Komplikatif

Terbatasnya alat- alat persalinan di rs serta sistem sterilitas yang masih konvensional/sederhana banyak menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial pada ibu –ibu bersalin.

Ibu hamil dengan infeksi ringan yang ditolong dengan alat yang kurang steril dapat memperberat infeksi/terjadi infeksi komplikatif yang mungkin tidak tertolong dengan pemberian antibiotik sehingga dapat menyebabkan ibu meninggal.

2. Diagram Masalah Kematian Ibu




Kelompok TB

1. Diskripsi Penanggulangan Masalah TB Paru

A. Pengetahuan Petugas TB dan Lab Kurang
1. Petugas yang ditunjuk tidak sesuai dengan bidangnya, seperti tamatan pekarya kesehatan sebagai petugas TB dan tamatan perawat sebagai petugas laboratorium.
2. Pelatihan petugas TB dan petugas laboratorium, pelatihan petugas sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun.
3. Kurangnya pengetahuan petugas juga disebabkan oleh kurangnya monitoring dan supervisi dari Dinas Kesehatan.

B. Promosi Kesehatan Jalan di Tempat
1. Pengetahuan dan perilaku petugas belum memadai
2. Petugas takut untuk melakukan promosi kesehatan
3. Petugas malas melakukan penyuluhan
4. Selama ini petugas melakukan promosi dengan kehadiran masyarakat yang tidak memenuhi forum
5. Masyarakat kurang mendapatkan pengetahuan tentang TB Paru
6. Petugas menganggap bahwa promosi tidak menghasilkan uang sehingga kasus TB bertambah banyak.

C. Error Rate
1. Petugas kurang mampu untuk membaca dan memeriksa sputum.
2. Petugas membatasi hari dan waktu untuk pemeriksaan sputum, misalnya hari Senin dan Jumat jam 08.00 sampai 11.00 saja
3. Petugas kurang mensosialisasikan cara pengambilan dahak yang baik. Contoh dahak yang bagus dahak pagi yang kelihatan kehijauan, jangan air ludahnya saja.
4. Petugas mempunyai tugas rangkap sehingga kadang lupa mana sputum waktu pagi dan sewaktu itu.

D. Kesehatan Lingkungan Perumahan
1. Untuk mengurangi kasus TB salah satunya dari perbaikan sanitasi perumahan.
2. Penderita yang hilang dan penderita DO bila tinggal dilingkungan perumahan atau sanitasi perumahan yang tidak sehat akan menularkan ke anggota keluarga yang lain termasuk masyarakat sekitarnya sehingga penyakit TB terus meningkat.
3. Sanitasi perumahan yang sehat/baik tidak haru yang mewah dan mahal.sehingga perlu stimulan bagi msyarakat beresiko TB
4. Kenapa harus dilakukan oleh Dinas Kesehatan, karena untuk penanggulangan TB harus dilakukan secara konprehensip dan dilakukan bersamaan. Artinya selain penemuan penderita, pengobatan penderita, lingkungan tempat tinggak penderita juga harus diperbaiki dan ini dapat dilaksanakan bila kegiatan tersebut menjadi satu dan terpadu di sektor kesehatan.
5. Petugas sanitasi harus lebih aktif memberikan pembinaan kepada masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dengan lingkungan yang sehat. Dalam pembinaan tersebut diperlukan penambahan pengetahuan dengan pelatihan.

E. Health Education oleh Dokter
1. Memberikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, apakah mereka berpenyakit TB dan yang pernah berobat apakah mereka sembuh atau tidak.
2. Jika masyarakat tidak tahu tentang diri mereka sembuh atau belum, ternyata banyak masyarakat yang TBC dan BTA + yang merasa sudah sehat.
3. Hal ini sangat berbahaya karena akan mengakibatkan penularan TBC tidak bias dicegah.
4. Apalagi yang ber BTA+ adalah masyarakat yang aktif seperti guru menularkan ke muridnya, dan banyak masyarakat lain yang juga bias menambah parah kasus TBC ini.

F. Petugas Tidak Menemukan Penderita
1. Petugas menemukan kasus secara pasif :
• Petugas hanya menunggu pasien datang ke Puskesmas
• Petugas hanya memeriksa kontak yang datang ke Puskesmas
• Banyak pasien dan kontak yang tidak terperiksa
• Swasta/masyarakat tidak dilibatkan :
• Petugas tidak memberikan penyuluhan pada swasta dan masyarakat untuk ikut peduli TB
• Bila masyarakat sudah peduli TB, mereka akan mengajak orang yang sepertinya orang yang diduga menderita TB dan membawanya ke Puskesmas
2. Petugas salah menilai pemeriksaan BTA sputum :
• BTA + tidak terdetekti menjadi BTA –
• Pasien tidak diobati,
Hal ini bisa disebabkan :
• Kemampuan kurang
• Kondisi lab yang tidak up to date
• Tapi sebenarnya kondisi lab bukan masalah utama, karena yang penting bukan “gun”nya tapi “the man behind the gun”

2. Diagram Masalah TB




Kelompok Kematian Bayi

1. Diskripsi Masalah Kematian Bayi

a. “Bidan hanya mengunjungi bila ada panggilan rumah”
Sistem yang berjalan dalam tata cara kerja tenaga kesehatan puskesmas yang pasif sehingga respon terhadap Bumil yang ada di wilayah kerja yang tidak mengunjungi puskesmas kecil sehingga mereka tidak mendapatkan pengetahuan kesehatan memadai. Dalam kasus kematian bayi karena tetanus neonatorum ini sebetulnya ada dana disiapkan oleh Pemda untuk home visite tetapi dana tersebut dipecah oleh beberapa bumil. Sehingga bidan merasa dana yang ada tidak memadai. Bidan akhirnya mengambil kesimpulan untuk membuat data di atas meja saja. Hal ini diketahui oleh Kepala Puskesmas tetapi cenderung membiarkan masalahnya. Tidak berusaha membuat terobosan untuk memecahkan masalah karena begitu dikonfirmasikan ke bidan yang bersangkutan terlalu banyak alasan yang dikemukakan dan kepala puskesmas jenuh dengan keadaan seperti itu. Akhirnya kepala puskesmas membiarkan keadaannya.

b. ”Persalinan ditolong keluarga”
- adat budaya turun menurun memang persalinan ditolong oleh ayah
- promosi oleh tenaga kesehatan bahwa persalinan harus steril tidak sampai pada keluarga
- keluarga belum menyadari pertolongan persalinan di mana memotong tali pusat dengan pisau yang belum direbus membahayakan bagi bayinya.
- Keluarga tidak mengetahui bahwa pemeriksaan kehamilan bahwa pemeriksaan kehamilan dan pengobatan ke PKM gratis
- Promosi bahwa ke Posyandu dapat juga di lakukan pemeriksaan kesehatan belum sampai pada keluarga
- Letak rumah keluarga jauh dari puskesmas atau bidan

c. ”Ibu malas datang ke Puskesmas”
- Ibu terlalu sibuk mengurus keperluan rumah tangga.
- Jarak rumah ke puskesmas jauh
- Transportasi sulit
- Lebih mengutamakan kepentingan lain dalam keluarga.
- Pengalaman persalinan terdahulu dengan bantuan suami sudah cukup membuat ibu yakin akan keselamatan bayi yang sekarang
- Tidak ada keluhan apapaun menyangkut kehamilan sehingga memmbuat ibu merasa tidak perlu memeriksakan kesehatannya.

2. Diagram Masalah Kematian Bayi



Anda dapat mendownload file hasil penugasan Workshop DTPS. Untuk membuka file diperlukan Win RAR, Ms. Project, Ms. Visio, dan Ms. Office.
Download File Tugas DTPS
12 Feb 2007