><
Analisis Situasi


Dalam analisis situasi, kita berurusan dengan informasi yang mencerminkan masalah-masalah yang adalah di lapangan. Masalah yang kerap terjadi di sini adalah orang terbiasa dengan informasi rutin untuk pelaporan. Mereka biasa memahami maksud dari data selain berkaitan dengan target kegiatan. Data terbiasa dipakai untuk mengukur hasil. Padahal data bisa digunakan untuk memahami lebih jauh tentang apa yang tidak beres dengan program. Data tentang proses dalam program itu tidak tersedia sehingga seorang menjadi tumpul. Mahasiswa memasukkan informasi yang mereka miliki ke dalam tabel. Jika tidak ada data, mahasiswa diminta memasukkan indikator yang biasa men-cerminkan kegiatan atau hasil dari elemen program kesehatan. Yang penting adalah mahasiswa bisa memilah-milah mana yang harus ia masukkan ke dalam kolom status kesehatan, pelayanan kesehatan, dan masyarakat.

Fasilitator menelaah semua data yang tersedia untuk menilai kegunaannya dalam menganalisis dan menguraikan masalah kesehatan, termasuk menyangkut kelengkapan dan relevansinya. Ia harus menjelaskan cara membuat analisis situasi dan indikator-indikator yang dapat digunakan, dan meminta peserta men-diskusikan data tambahan baik secara kualitatif dan kuantitatif untuk menyempurnakan penetapan masalah.

Tabel ini harus bisa memberikan informasi tentang dalam hal apa suatu daerah bermasalah. Ia membantu kita mengidentifikasi masalah-masalah dan me-netapkan agenda. Ia juga membantu kita memahami mana sektor kesehatan dan mana yang bukan. Ada banyak cara menampilkan informasi dalam tabel analisis situasi. Yang dicontohkan dan dianjurkan modul ini adalah yang bersifat prediktif.

Tabel di bawah ini adalah contohnya. Di situ terlihat jelas, untuk masing-masing kondisi, dicantumkan indikator untuk tahun pada saat program dibuat dan keadaan yang ingin dicapat pada beberapa tahun berikutnya. Tidak ada kepastian berapa tahun yang akan kita gunakan untuk membuat target dari kegiatan kita. Ini sama sekali tergantung pada siklus perencanaan. Jika kita bekerja untuk bupati yang berganti tiap 5 tahun, maka barangkali lebih tepat kita mencantumkan jangka harapan 5 tahun. Tetapi dapat pula terjadi dikaitkan dengan masa kerja kepala dinas atau apa saja yang membuat kita ingin mengerjakan sesuatu karena ingin mencapai keadaan tertentu dalam waktu tertentu.

Contoh Tabel yang Membedakan Indikator Dua Daerah


Kita bisa menggunakan beberapa pola lain yang mungkin lebih cocok dengan kondisi otonomi daerah. Beberapa tabel berikut ini merupakan contoh. Satu tabel menekankan betapa penting arti sebuah indikator agar ia menjadi agenda dalam perencanaan. Bukan men-cantumkan tahun akan datang, tabel ini membandingkan keadaan saat ini dengan keadaan di masa lampau. Jika keadaan di masa sekarang menjadi lebih buruk dibanding yang lalu, maka keadaan itu pantas dicatat sebagai masalah yang penting.

Pengisian Kolom Tabel

Hubungan antar kolum dari tabel analisis situasi dapat dilihat seperti gambar di bawah ini. Untuk mudahnya kita bisa menuliskan status kesehatan dengan apa saja yang dianggap outcome yang dianggap masalah kesehatan pribadi. Apakah outcome ini berkaitan langsung dengan sistem kesehatan atau tidak, untuk sementara tidak usah dihiraukan. Gunakan akal sehat ketika menuliskan sesuatu itu sebagai masalah kesehatan. Sebagai contoh, gizi buruk bisa kerap dimasukkan sebagai status kesehatan. Meskipun memang ada yang bisa dikerjakan oleh petugas kesehatan berkenaan dengan gizi buruk, tetapi itu bisa lebih tepat sebagai kelompok penyulit. Ia penyulit karena gizi buruk mencerminkan masalah-masalah distribusi makanan dan kemampuan keluarga mensuplai makanan yang memadai kepada anak. Itu sudah menjadi urusan kementerian sosial dan kementerian pangan.

Sedangkan sistem pelayanan, berisi apa saja yang menjadi pekerjaan dinas kesehatan dan perangkatnya di daerah, termasuk rumahsakit dan puskesmas. Tidak usah terlalu khawatir dengan penggunaan istilah pelayanan kesehatan. Kolom di tengah itu bisa juga berisi sistem pemeliharaan kesehatan. Dalam sistem pelayanan ini, kita bisa memasukkan SDM kesehatan (input) strategi pelayanan (proses) dan bentuk-bentuk pelayanan yang sampai di masyarakat (output). Alasan kita menggunakan “pelayanan kesehatan" sebagai judul adalah karena banyak hal yang sesungguhnya berpengaruh terhadap proses penyembuhan kesehatan yang masuk dalam katagori sistem sosial ekonomi.

Contoh Pengisian Tabel

Perhatikan, setelah kolom indikator terdapat dua kolom tahun. Kolom ini untuk mempelajari seperti apa keinginan di masa mendatang akan kita capai. Jadi yang membuat mereka bergairah mengatasi masalah adalah target yang ingin dicapai. Tetapi jika yang menjadi alasan mereka berbuat adalah besarnya masalah, dua kolom ini bisa dibuat untuk menggambarkan masalah. Ia bisa dibuat untuk memperlihatkan perbedaan keadaan di kabupaten dan di propinsi. Contoh di atas menjelaskan jurang antara kondidi si Melaboh dan Rata-rata di Propinsi Aceh. Pilihan ini tergantung apakah kita tergerak dengan melibat posisi daerah kita dibandingkan keadaan level propinsi.Tetapi masalah yang penting bisa ditekankan dari besar penurunan atau kenaikan pada kurun waktu tertentu. Dengan membandingkan isi kolom indikator, kita bisa menekankan hal mana yang menjadi tekanan dalam analisis situasi itu. Tabel itu bisa juga berisi indikator suatu masalah berdasarkan kecamatan. Ini terutama dibuat untuk menempatkan kecamatan mana yang harus menjadi perhatian bidang kesehatan.

Indikator

Indikator yang umum adalah angka insidensi, prevalensi, ratio, dan rate yang biasanya diukur per 1000 hingga 100000 penduduk. Angka-angka kejadian penyakit dan kematian per jumlah penduduk itu pada masa lalu berguna untuk memperkirakan kejadian di tingkat nasional atau provinsial. Kadang-kadang angka-angka dari bawah dibuat agar terdapat angka nasional. Analisis biasanya dibuat pada level internasional. Bagi pemerintah pusat, angka-angka itu menjadi dasar pengembangan peren-canaan dan pem-biayaan program penyakit.

Dalam konteks desentralisasi saat ini, angka-angka tentu saja bisa dijadikan pegangan bagi bupati untuk mengeluarkan dana untuk program kesehatan. Tetapi perlu diingat bahwa angka-angka itu perlu dibuat pada level yang mempunyai arti bagi satuan politik di masyarakat. Jika kita memahami angka-angka itu berdasarkan kabupaten atau kota saja, maka kita tidak bisa memontret di mana sebenarnya masalah itu terjadi. Jika kita bisa membuat angka-angka itu per kecamatan, maka hal itu akan lebih berarti bagi kepentingan pencegahan pada tingkat kecamatan. Lagi pula, bila camat tertentu memahami bahwa angka suatu penyakit atau kondisi tertentu buruk di daerahnya, itu akan membawa dampak pada tanggung jawab politik mereka sebagai pejabat tertinggi di kecamatan itu.

Diagram: Indikator Kecamatan vs Desa


Versi Umum

  • Angka kematian ibu kabupaten.
  • Insidensi malaria kabupaten.

Versi Khusus

  • Jumlah desa yang masih memiliki kematian karena proses persalinan.
  • Jumlah kecamatan yang masih memiliki kema-tian karena proses persalinan.
  • Persentase sekolah yang bebas tuberkulois

Haruskah kita menggunakan angka-angka kepen-dudukan? Dalam praktik, tidak semua angka-angka mudah dipahami pembuat keputusan di kabupaten. Kadang-kadang bahkan angka-angka itu menjadi tidak berarti karena dianggap sudah biasa. Bahkan kadang angka-angka itu mudah salah dibuat karena penduduk yang menjadi dasar pembagi angka itu tidak jelas besar dan spe-sifikasinya. Sebagai respon terhadap keadaan seperti itu, tidak salah jika kita mencantumkan angka absolut. Kematian ibu 3 orang per tahun sesungguhnya sudah cukup mengatakan ada masalah serius di suatu kecamatan atau kabupaten. Demikian pula, satu kematian karena DHF pun sudah cukup menunjukkan masalah lingkungan yang berisiko tinggi bagi penularan lebih banyak. Jadi angka-angka absolut kerap kali lebih berarti apa lagi kejadian itu menjadi perhatian masyarakat di suatu kecamatan atau kabupaten.

Keuntungan indikator kecamatan atau kelurahan? Indikator bisa dikaitkan dengan kepentingan stakeholder. Tidak semua kecamatan dan desa memiliki masalah kematian. Jika kecamatan atau desa yang memiliki kematian ditemukan, maka pemecahan masalah akan berbeda jika tidak diketahui.

Desa dengan Kematian Ibu

Anggaplah semua bundaran itu adalah desa. Jika kita tidak mengetahui desa mana yang memiliki kematian, maka sumber digunakan untuk semua desa, biasanya berupa pembagian rata untuk semua desa. Tetapi jika 3 desa diketahui memiliki kematian ibu, maka sumber-sumber akan digunakan untuk 3 desa tersebut dan masalah yang berkaitan dengan kematian dapat diatasi. Penyebutan 3 desa yang bermasalah itu memberikan efek politik yang membuat kepala desa sadar masalah itu berada di wilayah mereka. Mereka akan lebih besar bergerak mengatasi masalah dibandingkan jika mereka tidak mengetahui masalah itu berada di tempat mereka. Karena ada masalah di tiga desa itu, camat bisa memanggil lurah-lurah yang bersangkutan dan meminta keterlibatan mereka dalam pengatasan masalah itu. Keterlibatan lurah dan camat dalam pengatasan kematian di masa mendatang akan jauh berbeda jika masalah itu hanya menjadi perhatian pada dinas kabupaten yang mengundang puskesmas yang bertanggung jawab atas wilayah kematian.

Jika Tidak Ada Informasi?

Informasi akurat mungkin tidak tersedia. Tetapi selalu ada informasi lain yang mendekati dan berfungsi sebagai pengganti. Ini dapat berupa: (1) kondisi sebagi akibat dari item informasi yang ingin diungkapkan, (2) kondisi pendahulu dari item itu, atau (3) informasi kualitatif yang terkait dengan unit analisis. Jika tidak memiliki informasi tentang jumlah penduduk dan yang mengalami kematian atau penyakit, maka kita bisa menggunakan informasi tingkat di atasnya. Kita sudah biasa memiliki rumahtangga sebagai unit analisis. sebagai contoh, persentase keluarga yang memiliki air bersih. Tetapi kita juga bisa membuat indikator, persentase desa yang memiliki keluarga dengan air bersih 75%. Asumsi indikator itu, jika suatu desa memiliki keluarga dengan air bersih 75% maka itu dianggap sesuai dengan target yang dicanangkan oleh pemerintah.


Konsep Pendukung> Analisis Situasi